Selasa, 02 Oktober 2012

MENDIDIK DENGAN CINTA DAN KASIH SAYANG

       Haruskah kita mendidik anak didik dengan cinta? Bukankah hati ini tak pernah berdusta akan rasa penuh cinta serta kasih sayang? Hati kita selalu berkata jujur, lemah lembut dan penuh kasih. Tidakkah bahagia yang terasa bila kita mendidik anak murid dengan penuh cinta dan kasih sayang?
       Mendidik seorang anak mungkin tidaklah mudah, tetapi juga bukan merupakan hal yang sulit. Ada banyak metode yang bisa dipakai untuk membuat anak didik menjadi sukses, ceria, berpandangan luas, bahagia, dan memiliki akhlak yang mulia. Namun, teori tidak mudah dipraktekan. Fenomena yang terjadi saat ini adalah orangtua atau guru kadang melampiaskan kepada anak didik. Tidak jarang kekerasan menjadi salah satu solusi pelampiasan. Kita lupa bahwa hal seperti itu dapat membuat anak didik menjadi trauma. Penyesalan kitapun kadang tak berarti, sebab kita tidak dapat mengubah apapun yang telah terjadi. Bahkan, kita tidak melakukan perubahan terhadap pola pendidikan kita. Pernahkan kita berfikir bahwa yang kita lakukan itu suatu saat akan ditiru oleh anak didik kita?
       Terkadang kita bangga jika anak didik takut kepada kita. Padahal, kepatuhan dan ketaatan yang mereka tunjukkan hanyalah sandiwara untuk menyenangkan kita. Mereka menuruti keinginan kita, tetapi bertolak belakang dengan apa yang ada di dalam hati mereka. Siksaan batin yang mereka rasakan lebih perih dan sakit daripada kekerasan yang kita lakukan. Bahkan mungkin tidak akan mereka lupakan sepanjang hidup mereka.
        Betapa senangnya jika anak didik menghormati kita sebagai orangtua atau pendidik tanpa ada paksaan. Betapa bangganya jika anak didik kita menggambarkan diri kita adalah sebagai sosok menghargai anak didiknya, bersikap dan bertindak bijak. Kita bukan orang yang menakutkan dipandang anak didik. Melainkan kita dianggap sebagai sahabat, kakak, orang yang dapat memberikan inspirasi, dukungan, serta menjadi teladan dikehidupan mereka
        Dalam menanamkan disiplin pada anak didik memang tidaklah mudah. Namun itu dapat diterapkan asal sesuai dengan karakter dan kepribadian anak tersebut. Sebagai contoh, disiplin tidak selalu identik dengan kekerasan. Kata-kata bijak dan tegas namun lembut sudah cukup. Tidak perlu membentak-bentak, apalagi main tangan. Bahkan jika sudah sulit untuk diatur, diam pun merupakan solusi. Diam bukan berarti tidak peduli, maksudnya adalah menunjukkan bahwa kita sedang berusaha menyadarkan kesalahan anak didik.
Sudah bukan zamannya mendidik anak murid dengan kekerasan. Saatnya kita membangun kepribadian anak didik kita menjadi anak yang penuh cinta dan kasih sayang. Sikap positif terhadap kehidupan atau wajah yang selalu tersenyum. Ajarkanlah kepada anak didik bahwa kekerasan itu bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar